Hoi! Ik ben terug

I am back. Dengan alasan tertentu, aku pengen nonton film ini kembali. Mungkin karena aku kangen sama aksinya Abimana yang oh My God, kece abis.

galIdFC_26102015_27713

Negeri Van Oranje, sebuah film adaptasi dari novel yang berjudul sama. Novelnya udah aku baca di tahun 2014, dan tertarik waktu ngelihat stiker ‘segera difilmkan’. Jujur, aku agak skeptis. Nggak gampang untuk adaptasiin novel jadi film. Banyak banget kasus film adaptasi novel yang novelnya lebih bagus daripada filmnya. Untuk kasus yang ini, aku bisa bilang… ‘Not bad.’ Nggak bisa dibilang sempurna, tapi juga nggak jelek. Then, Let’s talk about it

 

Cerita latar belakang kenapa aku tertarik ama film ini tu karena novelnya. Kenapa aku mau beli novelnya tu alasannya ada dua. Satu, karena bukunya bercerita tentang study abroad, yang dimana aku pernah ngalamin juga. Dua, karena ini cerita di BELANDA! Di antara semua negara di Eropa, aku suka sama Belanda! Titik. Bukan Perancis atau Itali, aku jatuh cintanya ama Belanda. Jadi, buku ini so me!!! It turned out to be not bad. not bad at all. 

Nah mengenai filmnya, ceritanya sama kayak di buku. Berkisah soal 5 sahabat. Geri (Chicco), Daus (Ge Pamungkas), Banjar (Arifin Putra), Wicak (Abimana Aryasatya), dan Lintang (Tatjana Saphira). 5 sahabat ini bertemu gara-gara nyasar di stasiun kereta di Amersfort, Belanda. Kelimanya adalah siswa-siswi Indonesia yang sedang mengejar gelar S2 di Belanda! Karena mereka ketemunya di Amersfort pas lagi badai, jadilah mereka membentuk group yang namanya AAGABAN alias Aliansi Amersfort Gara-gara Badai di Netherlands. Kelimanya jadi bersahabat tentunya walaupun mereka bersekolah di sekolah yang berbeda-beda. Lintang di Leiden, Geri di DenHaag, Daus di Utretch, Banjar di Rotterdam, dan Wicak di Wageneigen.

645x430-negeri-van-oranje-cinta-dalam-balutan-persahabatan-1512197-rev1
arifin, ge, tatjana, chicco, and abimana

And guess what!! Ada cinta bersemi di Belanda. Nah, pertanyaannya, siapa ke siapa yang jatuh cinta ;).

Jujur sinopsisnya asli biasa banget. Konfliknya juga ketebak abis. Tapi, yang spesial dari film ini itu 5 elemen penting sebuah film.

  1. Cinematographynya.

Aku bukan orang film, tapi menurutku film ini permainan cahaya dkk itu amat sangat maksimal. Endri Pelita sebagai sutradara boleh diacungi satu jempol. Selain emang lokasi di Eropa itu sudah cakep dari sananya. Lalu, setelah nonton kedua kali, aku baru sadar kalau film ini ngomong juga melalui gambar. Dari awal sebenarnya sudah ada hint siapa yang akan memikat hati Lintang. Dari permainan point of view, close up, and so on. 🙂 Dan oh editing. Ide flashback bikin film ini emang lagi kayak dengerin ceritanya Lintang (yang emang jadi narator utama).

2. Writernya.

Begitu lihat nama writernya Titien Wattimena, langsung hats off! Pantesan dialognya lucu menggigit. Masing-masing karakter jadi keluar identitasnya. Banyak tambahan dialog dibandingkan di buku. Good for that.

3. Castings (not all tho)

Dari segi casting yang menurut aku sukses besar itu Chicco sebagai Geri, Abimana sebagai Wicak, dan Arifin sebagai Banjar. Geri yang metropolis dan dengan tagline “on me”nya itu dimainkan dengan asyik oleh Chicco. Emang dapat banget sebagai cowok idaman semua cewek. So lovable. Seperti yang udah kita expect. Chicco is one of those talented actors. Nah, kalau Abimana kok jadi keterlaluan sexy di sini. Padahal dia jadi anak paling pendiam di AAGABAN. Mulai dari lirikan matanya, cara dia berjalan, semuanya terasa Wicak banget. Actually, dia bikin gambaran aku soal Wicak yang di buku jauh lebih bagus. Sedangkan Arifin kebagian peran jadi cowok gombal ala-ala haha. And it suits him well ternyata. Selama ini Arifin itu terlalu ganteng. Di film ini, dia melepaskan semua ‘the cool boy image’ jadi laki-laki asal Banjarmasin yang bekerja paruh waktu.

 

 

4. Directing

Ini rasanya film pertamanya Endri Pelita yang aku tonton. Sebenarnya tidak buruk. Beliau mampu ngebuat para pemainnya itu lebih mengeluarkan karakter yang dia perankan. Dan mang itu yang beliau mau. Overall, good job meneer.

5. Location

GOsh, those European sidewalks, dan semua soal Amsterdam dan kota-kota lain udah amat sangat memukau. Tapi, yang bikin aku jadi suka banget ama film ini salah satunya bisa dibilang gara-gara universitasnya. Leiden oh Leiden University, aku mau library kayak kamu punya. So keceeeeeee.

Terus terang, film ini belum bisa dibilang not the perfect one. Gara-gara ada beberapa hal yang menurutku agak off, dan pacenya agak sediki beantakan. Memang itu adalah challenge dari film yang diadaptasi dari novel. Kadang-kadang jadi terkesan jumpy.

Tapi, kalau film kebanyakan tu bagus di depan, jelek di belakang, it is not the case of this movie. Film ini kebalikannya. Openingnya agak kurang opening menurutku. Gara-gara dialog pertamanya yang menurut aku, Daus kurang Daus. Dialog pertamanya dibuka oleh Daus (Ge Pamungkas). Masih kedengaran kaku, tapi, untungnya terselamatkan di bagian tengah hingga belakangnya. Ge jadi bisa ngehidupin karakter Daus. Tatjana juga menurutku bukan representative yang tepat untuk sosok Lintang. Ya, bulu matanya menggoda, tapi… Lintang yang aku tahu dari buku itu adalah ‘the girl.’ Cewek tough. Akting Tatjana juga on and off. Ada satu bagian yang menurutku sudah Lintang, eh di bagian lain lagi kayak akting sinetron hehe. Satu kekurangan lain yang membuat film ini kelihatan jumpy adalah…  there is no explanation about why they are called AAGABAN. Please deh itu crucial!!!! hahaha…

Negeri-Van-Oranje-1

Nevertheless,  film ini udah aku tonton dua kali! Dan masih enjoy. Jadi, kesimpulannya…

the movie is deserved to be watched!!! 🙂 

Salam AAGABAN

Deserved to be watched,

 

Production House: Falcon Picture

Directed by: Endri Pelita

Writer: Titien Wattimena

Casts: Chicco Jerikho, Abimana, Tatjana, Arifin Putra, Ge Pamungkas

Year 2015

 

 

 

Advertisements