Hey June! Dan jeng jeng Indonesia hari ini akhirnya bangkit. Memang, ini bukan bulan Agustus, bukan untuk merayakan kemerdekaan Indonesia, tetapi, hari ini dibuat khusus untuk mengingatkan kita tentang Pancasila. Terharu. Tidak salah Jokowi akhirnya yang pegang kemudi negara ini. Sudah lama, aku tidak bersemangat menulis tentang Indonesia selepas film-film dan beberapa buku yang aku review baik di sini maupun di blog lama. Khusus hari ini, aku akan menulis tentang film, lagu, buku yang bisa menggambarkan Indonesia – Pancasila.

  1. Musik

Kita mulai dengan yang paling gampang untuk dinikmati dulu. Lagu. Menurutku ada satu lagu yang bisa dibilang satu Indonesia dari sabang sampai Merauke ada di situ. Dan, kalau kita bilang lagu Indonesia yang bernuansa sangat Indonesia, tidak lain dan tidak bukan, dua nama ini langsung muncul di kepala. Guruh Soekarno Poetra dan Chrisye. Yap. Dua orang ini yang sudah menciptakan puluhan lagu yang selalu erat dengan musik tradisional Indonesia dengan sentuhan modern. Dari sekian banyak lagu, yang menurutku sangat Indonesia adalah

Serasa – Chrisye (Badai Pasti Berlalu, 1990)

Tentu saja banyak sekali lagu-lagu Chrisye lainnya yang bernuansa Indonesia, bahkan ada yang tentang Indonesia itu sendiri seperti Zamrud Khatulistiwa. Tetapi, kita bicara musik di sini. Menurutku yang paling Indonesia dan mempunyai intro terbaik adalah lagu Serasa ini πŸ™‚ Berkali-kali aku mendengarkan lagu ini, berkali-kali di kepalaku tergambar banyak penari-penari yang masuk ke panggung dengan tarian Bali, lalu disusul dengan tarian Jaipong, seperti sedang melihat sebuah pergelaran. Dan oh my, bagian terakhir lagu sebelum penutup menurutku adalah yang terbaik.

Yang kedua adalah Dangdut is the Music of My Country by Project Pop.

Dangdut dan Indonesia itu juga satu kesatuan. Jujur saja, kamu mungkin benci mendengarkan lagu dangdut, tetapi di sisi lain, kamu juga akui bahwa Dangdut itu Indonesia, haha. Selama menjadi mahasiswa di negeri orang, aku jadi banyak mendengarkan lagu-lgu dangdut lama. 5 Menit lagi, Mari joget, dan lain sebagainya haha. Project Pop adalah salah satu icon yang aku bilang amat sangat kreatif. Lirik Dangdut is the Music of My Country nails it all, dan sangat Pancasila.

Siapa tidak mengakui perbedaan
Tidak pernah diajari di skolahan
Semua orang macam-macam diciptakan
Cakep atau jelek smua punya perasaan

Ada orang Batak, ada orang Jawa
Ada orang Ambon, ada juga orang Padang
Ada orang Menado, ada orang Madura
Ada orang Papua, nggak disebut jangan marah

*
Apakah yang dapat menyatukan kita
salah satunya dengan musik
Dangdut is the music of my country

Reff :
Dangdut is the music of my country, my country, of my country
Dangdut is the music of my country, my country, of my country
Aaaaa, oh my country

Kalo ngaku ngerti tentang persatuan
Mengapa adu domba mudah dilakukan
Kenapa smua mudah hilang kesabaran
Kenapa smua mudah diprovokasikan

Ada kulit hitam, ada kulit putih
Ada rambut panjang, ada juga rambut keriting
Ada mata besar, ada mata sipit
Ada orang kaya ada juga orang miskin

Read more: http://www.wowkeren.com/lirik/project_pop/dangdut-is-the-music-of-my-country.html#ixzz4ij0p45Fq

 

2. Film

? oleh Hanung Bramantyo. Ini sudah harga mati kalau film ini berceritakan tentang pluralisme dan artinya toleransi. Bermacam-macam agama dan suku diperlihatkan sudut pandangnya. Film yang sederhana dan penuh makna, tetapi dilarang diputar di TV nasional oleh bangsanya sendiri. Yah, sewaktu itu aku merasa masih banyak orang bodoh di luar sana yang merasa dirinya yang paling benar. Sampai sekarang kelompok-kelompok itu juga masih mengganggu ketentraman hidup di sini. Hanya saja, aku kagum sama begitu banyak masyarakat Indonesia yang masih mau menghidupi Indonesia dengan nafas Pancasila. Salut. πŸ™‚

Film kedua adalah 2014 yang masih di bawah garapan Hanung Bramantyo. Di film ini, kita disuguhkan dengan pesta demokrasi yang makin marak dirayakan di Indonesia. Walaupun tetap saja kejadian politik baru-baru ini bikin banyak orang patah hati, tetapi lucunya, aku makin melihat banyaknya sisi orang-oran yang amat sangat patriotisme. Bisa baca full reviewnya di sini

3. Buku

Yang pertama adalah buku karangan Clara Ng – Dimsum Terakhir. Menurutku buku ini sangat Indonesia karena dia menggambarkan salah satu suku terbesar yang sudah lama hidup di Indonesia, yaitu mereka-mereka (termasuk saya) yang berketurunan China. Bercerita tentang perempuan kembar 4 dengan pergumulannya masing-masing. Cerita metropolis tetapi masih menggambarkan sedikit latar belakang keturunan China di Indonesia. Ada tradisi imlek, cap go meh, dan nilai-nilai leluhur.

dimsum-terakhir

Lalu, yang berikutnya adalah Pulang oleh Leila S. Chudori. Kalau yang ini bacaan sedikit berat namun tuturannya jujur dan membuka wawasan kita tentang sejarah kelam Indonesia dan permainan politiknya di luar negeri. Bagaimana ceritanya sampai banyak warga Indonesia yang berada di negara orang. Apa yang terjadi dengan orang-orang yang ada di pulau Buruh. Bagaimana seorang perantau tetap saja rindu akan pulang.

Lucunya, beberapa hari terakhir ini saya menemukan banyak percakapan dengan banyak orang mengenai kenapa saya pulang Indonesia setelah kuliah di luar negeri. Alasannya tidak akan saya ceritakan di sini, tetapi poin yang ingin saya bilang cuma… kami-kami, par perantau yang pulang itu karena kami merasa di sinilah tempat kami. A mere of sense of belonging πŸ™‚Β 

Ulasan tentang buku ini ada di sini

16174176._UY960_SS960_

Masih banyak hal yang tentunya bisa menggambarkan arti Pancasila. Semua masyarakat dianggap sama. Tidak ada yang lebih penting dibandingkan yan lain. Dari aku kecil hingga sekarang, aku selalu diajarkan asas gotong royong dan bhineka tunggal ika. Walaupun ditempa di sekolah Katolik, namun di situ aku juga ada teman yang beragama Islam, orang dari Mamuju, diajar oleh orang Flores. Keberagaman.

Dan aku perempuan Indonesia bermata sipit dan berkulit kuning mempunyai sahabat asli orang Jawa dan Makassar berhijab. Do you have a problem? Because we dont πŸ™‚

 

 

Advertisements